YangSaya Nampak

Archive for the ‘Sosial’ Category

RASIONAL DIBALIK LARANGAN PENGGUNAAN KALIMAH ALLAH OLEH GOLONGAN BUKAN ISLAM DI MALAYSIA

In Agama, Sosial on August 23, 2013 at 11:18 am

[Sumber FB page Saya Sayang Tun Dr Mahathir]
Oleh: Mohammad Fedorov

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Penyayang.

Umum maklum baru-baru ini telah berlaku perbicaraan berhubung cubaan The Herald untuk memfailkan bantahan terhadap rayuan keputusan Mahkamah Tinggi yang membenarkan penggunaan kalimah Allah bagi penerbitan majalah itu.

Tulisan ini tidaklah berhasrat mengulas panjang berkenaan perbicaraan tersebut tetapi ingin difokuskan di sini berkenaan rasional di sebalik larangan penggunaan tersebut,dan apakah kesannya dalam jangka masa panjang sekiranya ia diteruskan.

Hukum asal di dalam Islam,tidaklah terlarang di dalam Islam sekiranya golongan bukan Islam ingin menggunakan kalimah atau lafaz kata nama ‘Allah’ bagi merujuk kepada Tuhan atau sembahan mereka.

Ia berdasarkan berberapa nas umum seperti berikut:

1.Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang memudahkan matahari dan bulan (untuk faedah makhluk-makhlukNya)? Sudah tentu mereka akan menjawab: Allah. Maka bagaimana mereka tergamak dipalingkan (oleh hawa nafsunya daripada mengakui keesaan Allah dan mematuhi perintahNya)? [1]

2.Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Ucapkanlah (wahai Muhammad): “Alhamdulillah” (sebagai bersyukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian tidak mengingkari Allah), bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat tauhid dan pengertian syirik)[ 2 ]

Juga dari sejak zaman sebelum diutuskan baginda Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam lagi, masyarakat Kristian di semenanjung Arab juga telah menggunakan lafaz “Allah” sebagai kata ganti kepada “Ilah” atau “Rabb” yang membawa maksud Tuhan.

Namun jika diteliti dan dikaji secara mendalam, terdapat juga nas lain yang tidak membenarkan penggunaan kalimah Allah .Antaranya:

1.Demi sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Bahawasanya Allah ialah salah satu dari tiga tuhan. Padahal tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, sudah tentu orang-orang yang kafir dari antara mereka akan dikenakan azab seksa yang tidak terperi sakitnya. [3]

2.Wahai Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani)! Janganlah kamu melampaui batas dalam perkara agama kamu dan janganlah kamu mengatakan sesuatu terhadap Allah melainkan yang benar; sesungguhnya Al Masih Isa Ibni Mariam itu hanya seorang pesuruh Allah dan Kalimah Allah yang telah disampaikanNya kepada Mariam dan (dia juga tiupan) roh daripadaNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasulNya dan janganlah kamu mengatakan: (Tuhan itu) tiga. Berhentilah (daripada mengatakan yang demikian), supaya menjadi kebaikan bagi kamu. Hanyasanya Allah ialah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah daripada mempunyai anak. Bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi dan cukuplah Allah menjadi Pengawal (Yang Mentadbirkan sekalian makhlukNya). [4]

Selain daripada adanya nas-nas, kaedah-kaedah dalam usul fiqh juga terpakai dalam menetapkan tidak boleh bagi orang bukan Islam dalam konteks di Malaysia untuk menggunakan kalimah Allah, antaranya kaedah yang disebut sebagai Sadd Al-Dzara’i.Secara ringkas, kaedah ini bermaksud, mencegah atau menutup pintu-pintu kerosakan.

Atas faktor bimbangnya berlaku manipulasi dalam penggunaan kalimah Allah untuk tujuan menyebarkan dakyah terhadap umat Islam,maka kaedah Sadd Al-Dzara’iy terpakai bagi mengelakkan sangkaan tersebut terjadi sekiranya penggunaan kalimah Allah dibenarkan bagi orang bukan Islam dalam tulisan dan ucapan harian mereka.

Selain dari kaedah yang disebutkan sebelumnya,larangan penggunaan kalimah Allah bagi orang bukan Islam juga membawa maksud untuk mentanzihkan Allah subhanahu wa ta’ala dari sebarang bentuk Tasybih (penyerupaan) mahupun Tajsim (menjisimkan) terhadap Dzat dan Sifatnya yang mana ia merupakan asas-asas yang terkandung di dalam bahagaian Tauhid Rububiyyah

Selain itu,kita juga perlu melihat berberapa kesan yang mungkin dihadapi sekiranya ia masih diteruskan.Kesan yang paling ketara ialah berlakunya usha-usaha memurtadkan umat Islam secara halus.

Selain itu, ia boleh menimbulkan kekeliruan dalam kalangan umat Islam yang lemah ilmu agamanya,atau kepada golongan muda yang masih baru bertatih memahami agama.Cuba anda bayangkan situasi dialog seperti ini:

Anak: “Abah, si Ramu itu menyembah Allah juga, tetapi kenapa Allah yang dia sembah itu ada di Kuil?
Abah:Oh, Allah dia dan Allah kita tidak sama nak.
Anak:Oh,maksudnya Allah ada banyak ke abah? Yang mana satu yang kita patut sembah?

Kesan lain dari penggunaan kalimah Allah bagi orang bukan Islam dalam konteks masyarakat majmuk di Malaysia ialah kebimbangan akan berlaku pluralisma dalam agama.’Perkongsian’ kalimah Allah merupakan salah satu pintu ke arah Pluralisma agama di mana semua agama dianggap sama dan setaraf.Natijahnya tidak mustahil akan ada pihak yang akan memperjuangkan perkahwian intra-agama kerana semua agama telah dipandang sebagai setaraf dan ini yang telah berlaku di Indonesia.

Juga yang paling dibimbangi jika dibiarkan secara terus menerus, ia menjadikan kita seolah-ol;ah bersetuju dengan kekufuran dan mensyirikkan Allah subhanahu wa ta’ala pada Tawhid Uluhiyyah dan juga Tawhid Al-Asma’ wa Al-Sifat di mana apabila Allah digambarkan dengan gambaran yang tidak layak dengan kesempurnaan dan kemuliaan yang layak bagi-Nya.

Justeru,semua umat Islam harus membuka mata dan bersungguh dalam mempertahankan larangan penggunaan kalimah Allah oleh golongan bukan Islam, demi memastikan survivaliti ‘Aqidah umat Islam di masa akan datang.

Kepada Allah kita pohonkan petunjuk dan hidayah.

[1]Al-Qur’anul Karim , 48:61
[2]Al-Qur’anul Karim, 31:25
[3] Al-Qur’anul Karim 5:73
[4] Al-Qur’anul Karim 4:171

Advertisements

No racial clash in Lawas.

In Sarawak, Sosial on September 26, 2012 at 2:15 pm

(From YB Baru Bian facebook)

Update from Lawas. (26th September 2012)

The protest organised by the Lawas community yesterday went successfully without any incident. They March to the Police station to submit a memorandum demanding Justice for the brutally murdered victim, the late Edwin Singa Pelipus. There was no riots in Lawas as was alleged by some. The Police Chief of Lawas thanked the organiser for the peaceful event and promise to look into their grouses. Among the content of memorandum are

1. Request the police to investigate this brutal case swiftly without prejudice. (The group responsible for the murder have several criminal cases connected to them but no charge was ever brought against them until now. There is allegation that this group have ‘protection’ from higher up).

2. Rid Lawas of the drug menace (Syabu). ( Its seems that the suspect were high on drug while committing the murder)

3. They want to stress that the protest is about demanding for justice and has nothing to do with race or religion. ( Among the 13 suspect under police remand now is an Iban youth and a Lun Bawang youth.)

We urge the public not to listen to rumors of racial clashes in Lawas. Lawas town is back to normal today and we urge everyone to remain calm and do not listen to rumors or spread rumors about racial clashes happening in Lawas.

All the Lawas community wants is Peace and Harmony.

Reporting in bad taste.

In Masalah masyarakat, Sarawak, Sosial on May 16, 2012 at 11:22 pm

SARAWAKIANS have rallied around the Penans. A newspaper’s allegations on Sunday of incest among the still semi-nomadic tribe have disgusted many of us in this fair state.

Yes, incest is wrong. No doubt. However, you do not publish such sensational allegations by naming an entire race, yet leave out crucial details including exact location, when the marriages occurred and not even quoting names in the article. Of course, reporters can’t publicly identify alleged victims in such situations, but could the reporter not interview at least one Penan expert on the matter, and then name that expert’s view in the article?

This was reporting in bad taste. The report headlined “My mother is my wife, my father is my husband” together with a side story “Brother marries his own sister”, was shoddily written.

The way it was presented was outright insensitive. Aside from bastardising the phrase “investigative journalism”, it has shamed an entire race unjustifiably. Even if incest has occurred, you do not single out the race. Incest and rape are ugly, but it happens all over the world. Of course incest occurs with higher frequency among poorly educated segment. That is a fact.

What is also a fact is that people steal and cheat, yet we do not go around writing articles with headlines like: “Chinese steal and cheat”. To single out races, label them with stereotypes and propagate misconceptions based on the actions of a few is racist.

That article was an exercise in selling newspapers and to get people’s attention. It certainly has, but for the wrong reasons.

The chatter online since Sunday – when the article was published – has been interesting. Among many from Peninsular Malaysia, there’s been renewed interests in old allegations of truckers who have sexual relations with underage schoolgirls in rural areas.

Among most of us from Sarawak, talk has been defensive. There are rebukes of rural communities’ alleged acceptance of incest. Most native traditions called adat strictly forbid incest. It is taboo and adat warns that incest brings with it suffering to the entire community.

To digress a little, what I’ve also found surprising is that in Peninsular Malaysia, the issue of sex is used to split the people, sex is so highly politicised there; here, this nasty allegation brought us together. Kudos to us. As far as I’m concerned, opinions of sex should be left as personal matters, while sex education must be taught in the classrooms.

A day after the allegations were published, the 17th Sarawak Legislative Assembly was called into session. At the opening, elected representatives and Cabinet members were asked of the allegations.

Assistant Rural Development Minister Datuk John Sikie Tayai said the allegation of casual sex and marriage between blood relatives among the rural community was news to him. “This is the first I’ve heard about this allegation. I really don’t believe it is like that,” Sikie said.

State PKR vice-chairman See Chee How said the writer of the article (who is from the peninsula) appeared unfamiliar with Sarawak.

“Firstly, Tinjar is in the middle of Baram and far away from Ulu Baram. Secondly, no nomadic Penan would build houses as shown in the photograph in the newspaper,” See told reporters.

“In fact, I’ve inquired with Telang Usan assemblyman Dennis Ngau, who confirmed that there is no Long Baram within his constituency. To say that there are incestuous marriages in 10 of the 15 families found in this mythical ‘nomadic Penan community’ is an absolute falsehood.”

The Opposition member also said the police should follow up on the matter, including obtaining statements and evidence from the writer of the article.

Welfare, Women and Family Development Minister Datuk Fatimah Abdullah was just as forthright. She said that any report was written from the “perspective of the writer”.

Fatimah kept relatively mum on the issue, reiterating many times that her stance was “non-judge- mental” until the allegations were proven, and even then, the context of rural life had to be understood first.

“Whatever it is, we take this (newspaper) report as the start (not the conclusive finding). You really have to look at it from their (rural people’s) perspective. You do not make any judgement. I’m not an expert in Penan culture, but generally, in any culture, if something is allowed, you should not be judgemental,” Fatimah said.

At the end of the day, sex is not the real issue here. What is key is education, and within that, easy access to quality education. Sex as a subject matter is simple yet complicated. At its simplest, sex is simply a fact of life; one with great ramifications depending on a person’s actions.

In a country like Malaysia, different segments of the public have their own opinions on how society as a whole should approach the subject. It is best that we leave it to experts, social scientists and educationists to help us deal with it.

A nasty report in the newspaper is only detrimental. — The Star, Sarawak Edition.

Peniaga Pasar Minggu Satok rela tidur di kaki lima.

In Sarawak, Sosial on May 13, 2012 at 8:53 pm

SEBAIK sahaja langkah kaki menghampiri pekarangan Pasar Minggu Satok di persimpangan Jalan Satok dan Jalan Palm di Kuching, pandangan mata semakin meliar tatkala melihat pacakan deretan khemah niaga yang memayungi pelbagai jenis sayuran dan buah-buahan.

Sedang mata asyik membelek keunikan kuih tumpik, cincin, bakar labu dan apam Sarawak, peniaga di situ tidak putus-putus mempelawa pengunjung yang lalu lalang untuk membeli kuih-muih tradisi Melayu Sarawak itu.

“Datang dari Malayakah? Mahu dicuba dulu kuih-kuihnya? Kalau berkenan beli, kalau tidak, tak mengapa,” ujar peniaga kuih, Noralisa Aceh, 24.

Dia yang ditemani sepupunya, Saleha Ramli, 22, menawarkan sepotong kuih yang masih dibaluti sejenis daun.

“Cuba rasa kuih celorot ini, sedap rasanya,” pelawa Noralisa.

Diperbuat daripada tepung beras dan gula merah, adunan kuih yang teksturnya sedikit kenyal dan manis itu kemudian dibalut dengan pucuk daun nipah sebelum dikukus sehingga masak.

Selain itu, gadis Melayu Melanau ini turut menjual tapai madu yang ramuannya beras pulut, gula dan ragi.

Kata Noralisa, tapai yang dibungkus menggunakan daun nipah lebih enak dan lemak.

“Tapai madu ini dijual pada harga 25 sen sebungkus. Kalau nak tahu, tapai ini cukup popular di Sarawak pada bulan puasa sebagai juadah pencuci mulut.

“Ketika itu, kalau sediakan 4,000 bungkus tapai sehari pun belum tentu cukup untuk penuhi permintaan pelanggan,” ujarnya yang membantu menjual hasil air tangan ibunya itu, Sabariah Ali, 48.

Tidak jauh dari gerai kuih-muih, pandangan mata beralih ke arah deretan gerai yang menjadi tumpuan ramai pengunjung.

SELAIN ikan terubuk masin, ikan terubuk bakar turut dijual di pasar ini dengan harga berpatutan bermula daripada RM10 hingga RM30 seekor.

Penulis tidak pasti apa yang dijual di sana namun kepulan asap nipis yang menyebarkan aroma harum masakan panggang seakan-akan magnet yang menarik sesiapa sahaja ke situ.

Dari celahan orang ramai, kelihatan deretan kepak ayam, ikan terubuk dan ayam pansuh di panggang di atas tungku mudah alih yang sama.

Di belakang gerai tersebut, tersedia beberapa buah meja lipat dan kerusi yang secara tidak langsung memberi pilihan kepada pembeli sama ada ingin menikmati juadah panas-panas di situ atau dibawa pulang.

Bagi pengunjung setia Pasar Minggu Satok, pemandangan seperti itu sudah menjadi kebiasaan kepada mereka.

Malah, pasar yang dipacak di atas jalan raya ini sudah berpuh-puluh tahun menjadi destinasi penduduk kampung dari serata daerah untuk menjual hasil tanaman, sayuran kampung serta buah-buahan yang tidak boleh didapati tempat lain.

“Inilah keunikan Pasar Minggu Satok. Pengunjung boleh membeli pelbagai jenis hasil tanaman dengan harga yang sangat berpatutan.

“Selain itu, mereka berpeluang mengenali pelbagai jenis herba, buah-buahan, tumbuh-tumbuhan dan haiwan yang digunakan oleh penduduk Sarawak dalam masakan dan perubatan tradisional mereka,” ujar pemandu pelancong, Lenjoe Nigo, 30.

Kata-katanya itu disokong oleh Mohammad Jo, 60, yang sudah lama berniaga buah asam paya di pasar minggu itu.

“Bukan mudah untuk ambil buah ini. Pokoknya tumbuh di dalam hutan tebal dan hanya boleh ditemui ketika musim menuai iaitu antara Mac dan Mei.

“Buah ini menjadi ramuan penting untuk masakan kukus dan dibuat jeruk. Bagi yang mahu elak ulser mulut, cubalah makan asam ini dua biji seminggu,” katanya.

Bagi Helen Wee, 50-an, pula, kepelbagaian jenis nanas yang dijual di gerainya menjadi daya penarik.

“Selain buah nanas, saya juga menjual bunganya. Orang Cina suka beli bunga nanas untuk dijadikan perhiasan topekong,” katanya.

Selain melihat rentak peniaga dan pembeli tawar-menawar, pelbagai hasil hutan yang jarang ditemui ada di sini. Antaranya batang tepus, kechala, kepayang, binjai, jambu ara dan belimbing hutan.

Bukan itu sahaja, pengunjung juga boleh membeli bermacam-macam jenis kraf tangan dan cenderamata seperti pua kumbu, sumpit dan manik

“Pasar ini beroperasi pada hari Sabtu bermula pukul 3 petang hingga 10 malam. Manakala keesokannya, ia dibuka semula seawal pukul 6 pagi hingga 12 tengah hari,” kata seorang guru yang berasal dari Samarahan, Norliza Tinggal, 29.

Bercerita tentang keunikan Pasar Minggu Satok, Norliza memberitahu, di sini sahaja pengunjung boleh melihat peniaga memasang kelambu dan tidur di pasar terutamanya yang datang dari Serian dan Serikin yang terletak di sempadan Kalimantan, Indonesia.

Tatkala gelap malam mula menyelubungi Satok, suasana hingar-bingar dengan jerit-pekik suara peniaga yang menjadi nadi pasar itu beransur sepi apatah lagi jalan masih basah dek timpahan hujan lebat petang tadi.

Menjelang pukul 10 malam, tapak pasar itu benar-benar sunyi. Ada tinggal sebahagian kecil peniaga yang masih ada di gerai dan mengemas hasil jualan.

Sementara sekumpulan peniaga lain sudah bersiap sedia untuk merehatkan badan di sebalik tirai kelambu yang dipasang di kaki-kaki lima berhadapan gerai jualan mereka.

TIDUR di tapak pasar sudah menjadi kebiasaan peniaga Bidayuh di Pasar Minggu Satok.

Biarpun hanya beralaskan kanvas yang dilapisi kepingan kotak, tidur mereka cukup nyenyak lantaran keletihan.

Seorang peniaga yang mahu dikenali sebagai Justin, 49, berkata bermalam di situ merupakan rutin mingguan dia bersama isteri dan anaknya yang berniaga hasil hutan dan sayuran.

“Keluarga mertua saya sudah berniaga di sini sejak 30 tahun lalu dan kini isteri saya mewarisinya.

“Kami tidak ada masalah untuk tidur dalam keadaan serba kekurangan. Apa yang penting, perlu ada kelambu kerana banyak nyamuk di sini,” katanya.

Sementara itu, bagi Maria Mayo, 65, dia terpaksa tidur di pasar walaupun kediamannya hanya terletak kira-kira 45 kilometer dari Kuching.

“Walaupun mengambil masa cuma sejam, ketiadaan kenderaan sendiri menyukarkan kami untuk berulang-alik.

“Lagipun kebanyakan peniaga di sini ialah orang Bidayuh yang datang dari kawasan luar bandar seperti Kampung Annah Rais dan Kampung Benuk di Padawan.

“Dari rumah panjang ke sini, kami terpaksa menumpang lori dengan bayaran RM17 seorang tidak termasuk barang jualan yang dicaj sebanyak RM3 setiap satu bakul.

“Bayaran tersebut sudah cukup mahal bagi kami sedangkan hasil daripada jualan tidak seberapa.

“Dek kerana itu, kami memilih untuk bermalam di pasar sahaja. Pendek kata, pasar Satok ini sudah menjadi hotel buat kami.

“Lagipun, jika bermalam di sini, kami mudah untuk menyambung perniagaan awal pagi esok,” katanya yang menjual umbut dan rebung. – Sumber: Kosmo!

Emas Olimpik dalam bayangan Pandelela.

In Sosial on May 8, 2012 at 12:47 pm

IMPIAN pingat emas pertama negara di Sukan Olimpik, Julai ini kini mungkin tidak lagi hanya disandarkan ke atas bahu Lee Chong Wei, sebaliknya kelibat ratu terjun negara, Pandelela Rinong yang memenangi emas di sirkit kedua Grand Prix (GP) Terjun di Montreal, Kanada pada Isnin mula memberi sinaran baru.

Gadis berusia 19 tahun dari Sarawak itu menewaskan 22 penerjun dari seluruh dunia untuk gah menjuarai acara 10 meter platform wanita – sekali gus membantu pasukan negara melakar sejarah pulang dengan dua emas pada sirkit kedua ini selepas kejayaan gandingan Bryan Nickson Lomas – Huang Qiang mengungguli acara 3m papan anjal seirama lelaki, pada Ahad.

Menjelang 80 hari lagi Temasya London bermula, pencapaian atlit terjun negara di Kanada memberi harapan baru koleksi pingat mampu ditambah berbanding hanya satu perak menerusi Chong Wei di Beijing, empat tahun lalu.

image

PRU-13: BN Sarawak kekal gabung muka lama, baru: Taib

In Barisan Nasional, Pilihan Raya Umum, Politik, Sarawak, Sosial on May 7, 2012 at 6:27 pm

BARISAN NASIONAL (BN) Sarawak akan tetap berpegang kepada strategi yang telah terbukti kejayaannya iaitu dengan meletakkan calon muka lama dan baharu atau penyandang bagi sesuatu kerusi bagi pilihan raya umum akan datang, kata Ketua Menteri Sarawak, Pehin Sri Abdul Taib Mahmud.

Beliau yang juga Pengerusi BN negeri berkata, muka lama atau penyandang diperlukan kerana mereka berpengalaman dan telah diuji walaupun mereka mungkin kurang aktif.

“Kita perlu muka baharu supaya kita dapat melatih mereka dengan pengalaman kita untuk menjadi pemimpin masa depan. Yang baru juga lebih aktif,” katanya pada sesi bertemu orang ramai di Oya dekat Mukah, pada Isnin.

Taib yang juga Presiden Parti Pesaka Bumiputera Bersatu (PBB) berkata parti beliau akan meletakkan satu atau dua muka baharu pada pilihan raya akan datang.

“Semuanya terpulang kepada Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak sebagai pengerusi BN untuk membuat keputusan dan menyokongnya.

“Sudah pasti kita masih memerlukan pemimpin muda yang mahu melihat Sarawak dan negara ini kekal teguh, stabil, bersatu dan progresif,” katanya.

Sarawak mempunyai 31 kerusi Parlimen dengan 14 daripadanya dipegang oleh PBB, Parti Rakyat Bersatu Sarawak (tujuh), enam oleh Parti Rakyat Sarawak (PRS) dan empat dipegang Parti Demokratik Progresif Sarawak (SPDP).

Taib berkata pada pilihan raya negeri lepas, PBB juga meletakkan 10 muka baharu manakala enam daripada 14 Ahli Parlimennya merupakan mereka yang pernah berkhidmat satu penggal.

Beliau juga berkata tiga anggota wanitanya merupakan Ahli Parlimen dan ada kemungkinan mereka akan meletakkan lebih ramai calon wanita dalam pilihan raya pada masa depan. – BERNAMA.

Bandar 1Malaysia bakal dibina di Kuching: Abang Johari

In Pembangunan, Sarawak, Sosial on May 6, 2012 at 11:09 pm

KEMENTERIAN Perumahan Sarawak melalui Perbadangan Pembangunan Perumahan (HDC) merancang untuk membina sebuah bandar 1Malaysia di Kuching, kata Menterinya, Datuk Amar Abang Johari Tun Openg.

Beliau berkata, bandar tersebut akan dilengkapi dengan kemudahan seperti kedai 1Malaysia, klinik 1Malaysia selain harga rumah yang lebih berpatutan sesuai dengan konsep 1Malaysia.

Katanya, beliau akan berbincang dengan Ketua Menteri, Tan Sri Abdul Taib Mahmud tentang lokasi yang sesuai untuk projek terbabit yang sudah pun mendapat sokongan daripada Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Razak.

“Projek terbabit akan menjadi contoh kepada pembangunan perumahan di kawasan bandar selari dengan peningkatan gaya hidup di bandar yang moden dan maju dalam tempoh lima ke 10 tahun akan datang,” katanya kepada pemberita selepas majlis perasmian karnival ulang tahun ke-40 HDC di Wisma Sultan Tengah di KUCHING pada Ahad.

Mengenai masalah pinjaman perumahan yang sering dihadapi pekerja swasta yang berpendapatan rendah, beliau berkata, satu jawatankuasa telah dibentuk berhubung usaha untuk menubuhkan sebuah agensi pinjaman khas di bawah Kementerian Perumahan.

Katanya, ketika ini jawatankuasa terbabit yang dipengerusikan oleh timbalannya Abdul Karim Rahman Hamzah sedang mengadakan perbincangan dengan Kementerian Kewangan.

“Jika penubuhan agensi ini diluluskan, pembeli rumah akan lebih mudah mendapat pinjaman berbanding permohonan di bank yang terlalu rumit serta perlu mendapat kelulusan dari ibu pejabat di Kuala Lumpur yang kurang kurang arif tentang projek perumahan di Sarawak,” katanya.

Menurutnya selain untuk projek perumahan di bawah pihak HDC, Syarikat Perumahan Negara Berhad dan Perumahan Rakyat 1Malaysia, agensi terbabit juga boleh memberikan pinjaman untuk projek rumah panjang di bawah HDC. – BERNAMA

Gaji minimum swasta.

In ekonomi, Sosial on May 1, 2012 at 7:02 am

image

Pekerja swasta di Sarawak layak dapat gaji minimum RM800 sebulan.

In ekonomi, Sarawak, Sosial on April 30, 2012 at 11:05 pm

SAYA tidak pasti adakah ini berita gembira atau tidak bagi kalangan mereka yang bekerja dalam sektor swasta. Apa yang pasti mereka yang selama ini mendapat gaji kurang dari RM800 sebulan akan layak menikmati gaji sebanyak itu apabila kerajaan memperkenalkan Perintah Gaji Minima.

Dari segi logiknya, memang ada yang akan gembira jika majikan mereka melaksanakannya.

Saya berpendapat itu adalah usaha kerajaan dalam mengiktiraf peranan dan sumbangan yang dicurahkan pekerja swasta tidak bergaji besar. Itu dinamakan kerajaan yang prihatin dengan segenap lapisan masyarakat.

Gaji minimum itu menurut Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Razak ketika mengumumkan perkara itu menerusi perhimpunan khas dengan pekerja sektor swasta di Pusat Konvensyen Antarabangsa Putrajaya (PICC) pada malam Isnin akan berkuat kuasa enam bulan dari tarikh Perintah Gaji Minima diwartakan.

Beliau yang dipetik menerusi Bernama berkata gaji bulanan minimum bagi pekerja sektor swasta di Sarawak, Sabah dan Labuan ialah RM800. Gaji minimum di Semenanjung Malaysia pula ialah RM900.

Ia meliputi pekerja dalam semua sektor ekonomi kecuali mereka yang berkhidmat dalam sektor perkhidmatan domestik, seperti pembantu rumah dan tukang kebun.

Ia berfungsi kepada RM4.33 sejam bagi para pekerja di Semenanjung manakala pekerja di Sarawak, Sabah dan Wilayah Persekutuan Labuan akan dibayar minimum RM3.85 sejam.

Najib yang dipetik menerusi Bernama juga menjelaskan perbezaan kadar gaji minimum antara Semenanjung dan Sarawak, Sabah dan Labuan adalah disebabkan perubahan dalam struktur gaji dan kos yang ketara di kawasan itu.

Kerajaan bagaimanapun berharap dalam tempoh dua hingga tiga tahun akan datang, gaji minimum untuk Sabah, Sarawak dan Labuan boleh diselaraskan dengan Semenanjung.

Tarikh efektif bagi syarikat kecil atau perusahaan mikro dilanjutkan selama enam bulan lagi bagi memberi mereka ruang dan peluang untuk membuat persediaan supaya perniagaan mereka tidak akan terjejas.

Najib berkata, tempoh 12 bulan tidak meliputi firma profesional seperti klinik pergigian dan perubatan, perundangan, arkitek dan perunding.

Beliau berkata, walaupun mereka mempunyai lima orang pekerja atau kurang, mereka dikehendaki melaksanakan gaji minimum dalam tempoh enam bulan selepas Perintah itu diwartakan.

Beliau menambah, tempoh yang diberikan itu adalah mencukupi untuk majikan menstruktur semula gaji dan operasi perniagaan mereka.

“Kerajaan menyediakan satu mekanisme pelaksanaan yang fleksibel supaya mereka yang benar-benar tidak dapat melaksanakan gaji minimum boleh merayu untuk ditangguhkan.

“Kami juga menyediakan satu mekanisme di mana beberapa elaun atau bayaran tunai tetap dibenarkan untuk diserap dalam pengiraan bagi gaji minimum.

“Ini adalah untuk memastikan bahawa pelaksanaannya tidak membebankan majikan dan tidak akan kehilangan pekerja,” katanya.

Sementara itu, Najib berkata, kerajaan menyedari pekerja menuntut gaji minimum antara RM1,200 dan RM1,500, namun ia tidak dapat dilaksanakan.

Berdasarkan syor Majlis Perundingan Gaji Kebangsaan dan kajian Bank Dunia, gaji minimum tidak boleh ditetapkan terlalu tinggi.

“Jika ia melepasi paras RM900 (gaji pokok), ia akan menjejaskan ekonomi, pasaran buruh dan kemasukan pekerja asing.

“Jika ia berlaku, industri tidak boleh beroperasi dengan sewajarnya dan ramai akan kehilangan kerja mereka dan Kerajaan tidak mahu membiarkan perkara ini berlaku kerana ia akan menjejaskan kebajikan pekerja dan kepentingan negara,” katanya.

Selepas beberapa siri perbincangan, satu keputusan telah dicapai oleh Majlis itu bahawa gaji minimum akan ditetapkan berdasarkan keperluan asas keluarga pekerja, keupayaan majikan untuk membayar gaji, produktiviti, peningkatan dalam kos sara hidup dan keadaan pasaran buruh.

Beliau berkata, Majlis mengemukakan syornya dan Kerajaan bersetuju dengan pelarasan.

Kek lapis kian dapat sambutan di pasaran luar Sarawak.

In Sarawak, Sosial on April 30, 2012 at 6:17 pm

Lagi tentang kek lapis Sarawak – antara produk kebanggaan industri desa Bumi Kenyalang – yang kini kian dikenali ramai di luar negeri itu.

Sebab nama yang popular dan rasa yang memang enak dan lazat, ia mudah menembusi pasaran domestik atau antarabangsa.

Baru-baru ini kek lapis yang diusahakan oleh sekumpulan usahawan wanita di Kuching disahkan bakal dipasarkan di Kedai Rakyat 1Malaysia yang dikendalikan oleh Mydin Sdn Bhd.

Mungkin itu satu rahmat kepada para pengusaha kek lapis selepas kejatuhannya pada tahun 2011 susulan pengesahan mentega jenama Golden Churn bukan halal. Majotiti pengusaha kek lapis dikatakan Mentega itu dikatakan bahan berkenaan.

Tetapi syukur sebab sekarang industri itu mula bangkit kembali. Itu yang kita mahukan kerana kukuh ekonomi rakyat, itu bermakna kerajaan bijak mengendalikan pentadbiran negara.

Borneo Post Online pada Sabtu melaporkan kek lapis Sarawak mempunyai pasaran luas di Johor kerana amat popular dalam kalangan penduduk negeri itu.

Pengerusi Jawatankuasa Pembangunan Usahawan dan Koperasi Johor, Datuk Maulizan Bujang dipetik berkata produk berkenaan boleh dilabelkan barangan wajib dibeli bagi penduduk Johor setiap kali berkunjung ke Sarawak.

Malah, terdapat beberapa pengusaha sudah mula menjalankan perniagaan Kek Lapis Sarawak di Johor.

“Ia (Kek Lapis Sarawak) amat popular di Johor. Kita memang mengalu-alukan usahawan negeri ini (Sarawak) melabur di Johor,” katanya dipetik dalam artikel itu.

Maulizan menjelaskan, produk-produk tempatan amat sesuai dipasarkan di Johor memandangkan lebih 40,000 rakyat Sarawak menetap di negeri itu.